Kabar Terkini
Kreasi Dalam Keterbatasan

Kreasi Dalam Keterbatasan

9 Juli 2015

Oleh: dr. Riny Sari Bachtiar, MARS – Koordinator Flying Doctors (Dokter Terbang) doctorSHARE

 

Meski sama-sama berlokasi di Provinsi Papua, apa yang saya jumpai ketika menjadi dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) di salah satu distrik di Kabupaten Jayapura amat berbeda dengan kondisi di Kabupaten Intan Jaya, tempat berlangsungnya pelayanan medis Flying Doctors (Dokter Terbang).

 

Kontur alam lokasi saya PTT berupa perbukitan dengan variasi karakter masyarakat pesisir dan pegunungan, berbeda dengan Kabupaten Intan Jaya yang benar-benar pegunungan. Yang juga berbeda adalah fasilitas publiknya. Fasilitas publik di Kabupaten Jayapura jauh lebih tertata, bahkan telah bersentuhan dengan teknologi meski dengan segala keterbatasan yang ada.

 

Suhu di tempat saya PTT mencapai dua puluhan derajat Celcius, sedangkan Kabupaten Intan Jaya bersuhu lima hingga belasan derajat Celcius. Perilaku hidup bersih dan sehat juga cukup memprihatinkan, ketika memberikan penyuluhan kesehatan di Intan Jaya, hanya satu dari seratus siswa SD yang memiliki sikat gigi dan mengetahui cara penggunaannya.

 

Dua lokasi ini begitu kontras, meski sama-sama berada di Provinsi Papua.

 

Dengan berbagai kondisi ini, saya melihat bahwa apa yang kami lakukan melalui program Flying Doctors sudah tepat sasaran. Dari beberapa desa di Kabupaten Intan Jaya yang sudah didatangi, banyak hal yang dapat kami kerjakan.

 

Kesulitan akses pelayanan kesehatan yang dihadapi masyarakat pegunungan Papua merupakan tugas lama yang belum teratasi. Medan yang harus ditempuh demi secuil kesembuhan tak terkatakan lagi sulitnya.

 

Sebagai seorang dokter, saya pun menjumpai aneka penyakit khas yang diderita masyarakat. Penyakit bedah paling menonjol adalah hernia ventralis atau hernia di perut bagian tengah. Dari 37 kasus bedah minor, penderita hernia ventralis pada pria maupun wanita mencapai 7 pasien (19 persen).

 

Butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya namun saya kira penyakit ini banyak terjadi karena faktor kebutuhan, alam dan budaya yang menuntut masyarakat melakukan aktivitas berat untuk kelangsungan hidupnya.

 

Dari hasil diskusi saya dengan ahli bedah, mungkin saja penyakit ini juga disebabkan faktor genetis yang cukup menarik untuk dilakukan penelitian.

 

“Kapalan” pada kaki dan tangan bukan hal mengejutkan, tetapi kapalan hingga kerikil-kerikil masuk dan menahun berada di telapak tangan dan kaki belum pernah saya temukan di tempat lain. Demikian pula dengan luka-luka terinfeksi yang hanya dibungkus seadanya dengan kain atau kantung plastik.

 

Penyakit tahunan yang pasti ditemukan di daerah pegunungan adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat cuaca dingin. Ventilasi honai (rumah khas Papua) juga tidak bersahabat dengan saluran pernapasan. Laporan masyarakat setempat mengatakan banyaknya nyawa yang menjadi korban akibat keterbatasan akses dan pengetahuan mengenai kesehatan.

 

Program Flying Doctors memicu kreativitas, inisiatif dan inovasi kami selaku tenaga medis. Banyak ilmu dan pengalaman lahir batin yang kami peroleh. Bersyukur dan berempati adalah hal-hal yang membuat kami semakin bijak mengambil keputusan dalam pelayanan medis ini. Banyak pengalaman berharga yang tidak terbayarkan oleh benda yang bernama "uang".

 

Tentu apa yang kami lakukan tidak terlepas dari kendala, terutama masalah bahasa. Tidak mudah memang, namun kendala ini teratasi berkat bantuan masyarakat lokal yang sudah mengenyam pendidikan sehingga komunikasi berjalan baik. Kolaborasi dengan masyarakat lokal adalah kunci penting karena tanpanya, mungkin yang kami berikan belum tentu berguna dan tepat sasaran.

 

Pada akhirnya, saya optimis kondisi kesehatan masyarakat Papua pegunungan bisa semakin baik di masa mendatang. Alam Papua adalah alam terkaya di Indonesia. Bukan hal mustahil bagi mereka untuk berdikari mengangkat harkat dan martabat sebagai manusia-manusia yang berkualitas. (***)

Goresan Relawan

Panggilan untuk Melayani