Kabar Terkini
dr. Rocky Ellery James Tumbelaka: Melakukan Yang Terbaik di Tengah Keterbatasan

dr. Rocky Ellery James Tumbelaka: Melakukan Yang Terbaik di Tengah Keterbatasan

2 Oktober 2015

“Kita bukan Superman”. Inilah kata–kata yang diucapkan oleh dokter instruktur pada pelatihan tim bantuan medis pertama yang saya ikuti. Maksud kata–kata tersebut adalah saat menolong orang, kita juga harus mengetahui batasan kemampuan kita.

Jangan sampai saat berusaha menolong, kita mencelakai diri sendiri atau kelelahan sehingga tidak dapat maksimal dan membantu lebih banyak. Karena itu, kita harus dapat memilih prioritas siapa yang lebih dulu perlu kita bantu dan bagaimana cara terbaik membantunya. Tetap pada akhirnya kita memang harus berhadapan dengan pilihan dan prioritas.

Adalah kenyataan bahwa kita tidak akan bisa membantu semuanya.

Ajaran tersebut kembali saya ingat saat sedang menjalani pelayanan medis di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat. 18 September 2015, kami memulai kegiatan screening atau pemeriksaan awal untuk operasi minor dan mayor di Pelabuhan Besar Saumlaki.

Hari-hari berikutnya saat kami sudah memulai pelayanan operasi, ada yang datang berharap mendapat layanan operasi meskipun kuota sudah penuh. Kami maklum dengan besarnya antusiasme warga. Namun di sisi lain, kondisi pasien, kriteria pemilihan kasus medis, serta keterbatasan waktu dan tenaga, juga menjadi kendala.

Dengan pertimbangan-pertimbangan matang di atas, kami memberitahu mereka bahwa kami terpaksa belum dapat melakukannya saat itu.

“Kita bukan Superman” merupakan pemikiran utama dalam pemberian pertolongan pertama. Pemikiran ini saya rasa secara tidak langsung diketahui dan dilakukan oleh rekan–rekan dokter yang juga melayani bersama.

Jadwal pelayanan medis yang kami jalani merupakan hasil pemikiran matang koordinator agar dengan tenaga dan waktu yang terbatas, kami dapat membantu masyarakat secara maksimal tanpa memaksakan batas di luar kemampuan kami.

Kami tidak dapat melayani secara membabi buta tapi juga harus memikirkan kesehatan diri dan keselamatan tim. Keselamatan pasien juga adalah hal yang utama, terutama setelah menjalani operasi.

Dalam hal menentukan proiritas, kami menelaah kondisi masing-masing pasien. Apakah secara medis pasien dalam kondisi aman untuk dilakukan prosedur operasi? Banyak kali kondisi pasien berisiko tinggi seperti mengidap gula atau tekanan darah tinggi.

Kami juga mempertimbangkan urgensi dari kasus medisnya. Apakah penyakit pasien harus segera memerlukan penanganan atau masih bisa diberikan prioritasnya kepada pasien-pasien lain. Hal-hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan ketika pilihan dijatuhkan.

Kami pun harus memberikan pertanggung jawaban penuh kepada para pendukung dan donatur kami, bahwa pelayanan medis ini diberikan kepada mereka yang betul-betul membutuhkan sesuai dengan visi dan misi doctorSHARE.

Tidak ada satu pun tindakan yang kami kerjakan tanpa kami pikirkan lebih dulu. Kami selalu bertanya: “Apakah kami sudah melakukan yang terbaik hari ini? Apakah yang kami bantu akan merasa lebih baik? Bagaimana dengan mereka yang belum sempat kami operasi?” Perasaan menyesal bahwa kami belum dapat menolong semuanya tentu akan selalu terngiang.

Kami pun sadar bahwa kebutuhan begitu tinggi. Banyak orang yang menanti uluran tangan kita. Di tengah keterbatasan, inilah yang memotivasi kami untuk selalu melakukan evaluasi, berbenah diri, dan memberikan yang terbaik.

Profesi dokter bukanlah pekerjaan main-main. Kami tetap memegang idealisme yang sama seperti saat memasuki fakultas kedokteran. Keberadaan kami bersama doctorSHARE merupakan kesaksian bahwa kami ingin memberikan yang terbaik untuk membantu sesama.

Tetapi dokter pun manusia. Sebagai manusia, kami masih terbentur dengan keterbatasan-keterbatasan yang belum memungkinkan kami memberikan pelayanan kepada semua orang.

Di sisi lain, kami sadar bahwa tugas menyediakan pelayanan medis bukan hanya tanggung jawab kami melainkan seluruh stakeholders, terutama pemerintah seperti yang tercantum dalam UUD 1945.

doctorSHARE tentu tidak dapat melayani 100% kebutuhan warga dalam sekali pelayanan medis. Tapi kami tahu bahwa keterbatasan tidak pernah menghalangi kami untuk selalu melakukan yang terbaik. 

***

Goresan Relawan

Panggilan untuk Melayani