Kabar Terkini
dr. Lie A. Dharmawan: Esok Harus Lebih Baik dari Hari Ini

dr. Lie A. Dharmawan: Esok Harus Lebih Baik dari Hari Ini

4 Oktober 2015

Mendirikan sebuah organisasi nirlaba, apalagi dengan ide, visi, dan program yang besar seperti Rumah Sakit Apung, Panti Rawat Gizi, dan Dokter Terbang jelas bukan perkara mudah. Tetapi dr. Lie menekankan bahwa pencapaian doctorSHARE hari ini bukan akhir namun awal untuk mencapai Indonesia Sehat yang selalu membutuhkan inovasi dari waktu ke waktu.

Iman dan kecintaan terhadap tanah air adalah motivasi dr. Lie untuk melayani mereka yang membutuhkan dan mendirikan doctorSHARE. Jauh sebelumnya, dr. Lie sudah memulai pelayanannya secara pribadi selama hampir 30 tahun silam.


Apa yang menjadi motivasi terbesar bapak dalam menjalankan misi ini?
(Xhuei Lu, …………..@yahoo.com)
Ada dua hal yang mendasari "kenekatan" saya. Pertama, iman. Melayani Tuhan dapat dilakukan dengan melayani sesama. Kedua, kecintaan kepada Indonesia. Cinta Indonesia berimplikasi melakukan segalanya untuk memajukan Indonesia. Kedua komponen ini tak dapat dan tak boleh dipisahkan satu dari yang lain.


Sejak kapan pelayanan doctorSHARE dilaksanakan dan apa motivasi pelayanan ini?
(Comala Dewi, …………@yahoo.com)
Sebagai organisasi, doctorSHARE berdiri resmi dengan akta notaris tertanggal 19 November 2009. Namun secara pribadi, saya sudah melayani hampir 30 tahun. Motivasi pelayanan adalah iman dan kecintaan terhadap negara kita, Indonesia. 


Bagaimana cara dokter tetap memelihara motivasi untuk mewujudkan impian dokter dan sebuah RS Apung dimana tantangan yang dokter hadapi sangat banyak? 
(Irene Trisbiantara, ............@gmail.com)
Motivasi utama saya adalah mau melayani Tuhan saya melalui pelayanan kepada mereka yang menderita. Motivasi lainnya adalah kecintaan dan kebanggaan saya akan Indonesia. Kedua komponen ini harus disatukan. Dari penggabungannya, lahirlah "kegilaan" untuk melakukan segalanya walaupun tantangannya sangat berat. Tujuannya adalah mewujudkan segala yang dicita-citakan.


Saat tidak diterima di universitas di Jakarta, lalu setahun kemudian diterima di Kedokteran Jerman, apa motivasi bapak masih ingin mengejar mimpi menjadi dokter padahal sudah ditolak dari universitas di Jakarta dan saat itu finansial juga tidak mendukung? 
(Isna Qurrota, ……..@gmail.com)
Untuk saya sendiri, ini adalah sebuah misteri. Dari kecil, saya sudah mau menjadi dokter. Karena situasi, saya hanya bisa mengungkapkan cita-cita saya melalui doa tanpa henti. Saya memohon kepada Tuhan bisa menjadi dokter yang sekolah di Jerman.

Ketika saya ditolak oleh perguruan-perguruan tinggi di Pulau Jawa dan orang-orang dekat menyarankan saya untuk kuliah bagian teknik saja, saya tetap berkeras untuk sekolah kedokteran. Jadi karena ditolak di dalam negeri, saya jadi betul-betul berkonsentrasi untuk melanjutkan sekolah ke Jerman.


Setelah berhasil di Jerman dan kembali ke tanah air, saya baru sadar bahwa Tuhan mengabulkan doa saya untuk sekolah di Jerman dengan menutup kemungkinan untuk kuliah kedokteran di tanah air. Saya berangkat dengan uang DM 500 yang kalau di-kurs setara dengan USD 125. Itu adalah modal awal saya.


Apa alasan dokter begitu semangat, giat dan sungguh-sungguh ingin menjadi seorang dokter hingga mendapat beasiswa ke Jerman?
(Ester Novia Veranata, ...........@yahoo.com)
Menjadi dokter yang sekolah di Jerman sudah menjadi mimpi saya sejak kecil. Saya ingin menolong orang yang tak ada akses untuk mendapatkan pertolongan medis. Inspirasi ini saya peroleh dari cerita ibu saya yang mengisahkan bahwa adik saya yang setahun lebih muda dari saya, harus meninggal karena diare. Saat itu, tenaga medis sangat sedikit dan kami miskin. Saya bermimpi bisa menolong mereka yang miskin karena dengan menolong mereka yang menderita, saya sudah melayani Tuhan saya.


Bagaimana cara menumbuhkan mental dokter yang mau benar-benar berjuang untuk masyarakat
? Kenapa Anda lebih memilih berkeliling indonesia dengan gaji minim bahkan nyaris tak bergaji? Prinsip apa yang Anda gunakan dan bagaimana menyiasati orang-orang sekitar yang mungkin tak sepaham dengan Anda?
(Novaldo Yudha Shena, ...........@gmail.com)
Jangan khawatir Novaldo. Sebenarnya, banyak sekali anak muda yang punya idealisme yang sehat. Bukan hanya mahasiswa kedokteran yang bercita-cita kelak setelah selesai kuliah, segera mencari pekerjaan yang menjanjikan penghasilan besar. Anak anak muda ini tak bisa disalahkan.

Kehidupan hedonis merupakan gaya hidup sehari hari. Jumlah kekayaan yang ditumpuk dan kedudukan yang tinggi merupakan ukuran keberhasilan seseorang. Namun, kalau para anak muda ini hidup dan bergaul dalam sebuah komunitas dimana anggota-anggota komunitas ini mengutamakan mengasihi dan melayani sesama, idealisme mereka tak akan luntur. doctorSHARE berusaha menjaga idealisme ini.

Anda benar. Sebagai seorang ahli bedah, kalau saya meninggalkan tempat kerja dan berkeliling ke tempat-tempat terpencil, saya kehilangan penghasilan. Namun ada hari-hari dimana saya melakukan operasi di Jakarta dan mendapatkan honor.

Saya berbagi bukan karena berkelebihan tapi karena saya merasakan penderitaan mereka yang hidup dalam kekurangan. Tentu kadang ada orang yang tak sepaham dengan saya, bahkan saya digelari “dokter gila”. Namun mata saya tertuju hanya pada untuk apa saya melakukan kegiatan ini dan ini saya lakukan dengan jujur dan ikhlas.


Apa keberhasilan
dan kegagalan terbesar yang pernah dokter alami selama hidup?
(Cindy Kesty, ……….@ymail.com)
Gagal? Saya tak pernah gagal. Definisi gagal bagi saya adalah kalau kita tak berhasil melakukan atau mendapatkan sesuatu, lalu berhenti berusaha. Itu baru gagal. Ketika saya menghadapi realita ditolak untuk kuliah di fakultas kedokteran, bagi saya itu bukan kegagalan. Saya berusaha di tempat lain. Kalau saya menyerah lalu beralih sekolah bidang lain, itu baru kegagalan.

Keberhasilan TERbesar? Tak ada kerberhasilan TERbesar, yang ada keberhasilan. Kami berhasil membuat sebuah rumah sakit apung terkecil di dunia yang berhasil memberikan pelayanan kepada ribuan orang. Kemarin itu adalah keberhasilan TERbesar, namun hari ini itu merupakan keberhasilan karena kami harus berinovasi terus membuat sesuatu yang lebih baik dan lebih berdaya guna.

Ini bukan isapan jempol, tapi benar-benar apa yang kami praktikkan dalam pelayanan kami sehari hari. Ketika melayani di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat dan mengetahui ada pasien yang turun dari gunung berjalan kaki selama seharian untuk mencapai Rumah Sakit Apung, kami mengembangkan pelayanan baru yang kami namakan proyek “Dokter Terbang“ (Flying Doctors).

Setelah terbang dengan pesawat perintis, kami juga berjalan kaki mendaki gunung untuk sampai ke tempat mereka hidup. Kita tak boleh puas dan berdiam diri dengan pencapaian hari ini. Esok harus lebih baik dari hari ini.


Setelah berhasil dengan program kesehatan perawatan anak gizi buruk, Rumah Sakit Apung,
Flying Doctors, dan Pembinaan Masyarakat Mandiri, apakah ada impian atau ide dokter lainnya yang belum dan harus direalisasikan dalam rangka mencapai masyarakat Indonesia Sehat? 
(Deli Susanti, ………..@yahoo.com)
Keberhasilan yang kita capai sekarang adalah hasil kerjasama semua anggota dan simpatisan doctorSHARE. Namun secara kuantitatif, apa yang sudah kita capai masih sedikit. Saya berharap agar lebih banyak lagi orang yang tergerak, lalu melakukan hal yang sama.

Harapan saya adalah agar cita-cita kita bersama seperti penurunan angka kematian ibu melahirkan, angka kematian bayi dan balita, serta angka penderita gizi buruk secara nasional dapat turun secara signifikan.(***)

 

dr. Lie Augustinus Dharmawan
Nama Lengkap                :   dr. Lie Augustinus Dharmawan, Ph.D, FICS, Sp.B, Sp.BTKV
Tempat, tanggal lahir     :   Padang, 16 April 1946


Pendidikan

  • SD Ying Shi, Padang
  • SMP Katolik Pius, Padang
  • SMA Don Bosco, Padang
  • S1 Free University, Jerman
  • S2 University Hospital, Cologne
  • S3 Free University Berlin, Jerman 


Pekerjaan/Kiprah Organisasi

  • Pendiri Mahasiswa Kedokteran Indonesia di Berlin (1971)
  • Pengurus Perhimpunan Dokter Indonesia di Jerman (1981-1984)
  • Kepala bagian bedah RS Husada, Jakarta (2000-sekarang)
  • Kepala Serikat Karyawan RS Husada (2000-2006)
  • Kepala Komite Medik RS Husada (2006-2009)
  • Wakil Ketua INTI (Perhimpunan Indonesia-Tionghoa) DKI Jakarta (2000-sekarang)
  • Ketua INTI Pusat bidang kesehatan (2005-sekarang)
  • Pendiri Yayasan Dokter Peduli / doctorSHARE (2009-sekarang)

Goresan Relawan

Panggilan untuk Melayani