Kabar Terkini
Ketika Rintangan Ditempuh Demi Warga Kei Besar

Ketika Rintangan Ditempuh Demi Warga Kei Besar

12 Nopember 2015

Oleh: dr. Lie Dharmawan, PhD, FICS, SpB, SpBTKV

 

Sejak 2009, doctorSHARE menjalankan sebuah Panti Rawat Gizi atau Therapeutic Feeding Center (TFC) di Pulau Kei Besar, Maluku Tenggara. Walaupun sangat sederhana dan sering berpindah tempat, namun kami telah berhasil menemukan dan merawat seratusan anak balita dengan gizi kurang hingga gizi buruk.

 

Kekurangan dana membuat kami harus senantiasa berpindah mencari ruangan yang bisa kami pinjam – pakai untuk merawat anak-anak malang tersebut. Kami bersyukur bahwa sejak awal tahun ini, kami sudah mempunyai sebidang tanah seluas dua hektar yang di atasnya sedang dibangun sebuah klinik seluas 11 x 11 meter dengan fasilitas setara rumah sakit.

 

Klinik (atau Rumah Sakit) itu hampir selesai dibangun.

 

Selanjutnya, kami akan membangun Panti Rawat Gizi dan sebuah kebun tumbuhan obat-obatan herbal (fitofarmaka), juga kolam budidaya ikan air tawar serta sebuah tempat pelatihan bagi bidan-bidan lokal dan ibu-ibu rumah tangga untuk mengolah bahan pangan lokal yang higienis, sehat, bernilai gizi tinggi serta murah.

 

Lain dari Pulau Kei Kecil yang lebih maju namun gersang, Pulau Kei Besar lebih luas dan subur namun tertinggal dari segi infrastruktur. Perekonomiannya juga belum berkembang. Walau subur, ironisnya kami masih menjumpai anak-anak kurang dan buruk gizi di pulau-pulau kecil sekitar Kei Besar.

 

Tulisan Sdri. Lisa Suroso dan dr. Vanessa tentang Igor dan Alrido menunjukkan bahwa balita dengan gizi buruk masih banyak terdapat di Indonesia, terutama di timur Indonesia.

 

Igor dan Alrido adalah dua dari sekian banyak anak dengan gizi buruk yang berhasil kami temukan dan kami rawat. Banyak di antara mereka yang berhasil ditolong tapi ada juga yang gagal, terutama mereka yang datang dengan penyakit-penyakit penyerta yang berbahaya seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), TBC (Tuberkolosis), bahkan ada yang sejak lahir sudah tertular HIV/AIDS.

 

Separah apapun kondisi sang anak, tak satupun kami tolak, selama orang tuanya setuju anak mereka dirawat di Panti Rawat Gizi (Therapeutic Feeding Center) kita.

 

Patut dicatat bahwa anak dengan gizi buruk akan dirugikan dalam pertumbuhan mereka. Perkembangan IQ dan EQ mereka tertinggal dari anak-anak sebaya. Pertumbuhan fisik mereka lebih kecil dibanding ukuran rata-rata anak-anak sebaya. Keadaan ini dinamakan stunting dan faktanya, 37,2% anak Indonesia menderita stunting (sumber: Wahana Visi Indonesia).

 

Sayangnya, kalaupun di belakang hari asupan gizi anak-anak ini membaik, namun masa keemasan (golden period) mereka yaitu 60 bulan pertama (1,5 tahun) telah terlampaui. Mereka hanya akan menjadi gemuk sementara IQ dan EQ mereka tidak akan mengalami kemajuan.

 

Mereka akan mudah terserang penyakit tak menular seperti diabetes, kegemukan, sakit jantung dan stroke. Ini yang dinamakan beban ganda anak-anak gizi buruk. Itulah sebabnya mengapa pemerintah ingin agar anak-anak mendapat perhatian lebih pada 1000 hari kehidupan awal mereka.

 

Gizi buruk tidak hanya disebabkan oleh kemiskinan. Ada banyak penyebab lainnya di samping kemiskinan. Sebut saja perang, cuaca ekstrim yang meyebabkan gagal panen, anak banyak dengan interval pendek antar setiap kelahiran, melahirkan di usia dini sehingga sang ibu belum siap mengasuh anak, kurangnya pengetahuan, dan masih banyak lagi.

 

Alasan-alasan inilah yang menyebabkan kami mendirikan TFC, klinik, dan sebagainya di Kei Besar.

 

Dengan upaya pribadi yang melampaui tugas pokok mereka dengan niat teguh untuk melayani, bersumber dari kasih kepada sesama manusia, relawan-relawan doctorSHARE seperti dr. Vanessa dan lain-lain dengan menempuh berbagai rintangan berbahaya berhasil menjumpai dan membawa anak-anak dengan gizi buruk untuk dirawat. (***)

 

Foto: Tim doctorSHARE saat melakukan screening pasien di Kei Besar, Maluku Tenggara

Goresan Relawan

Panggilan untuk Melayani