Kisah Dokter Teladan Kabupaten Maluku Tenggara 2015: dr. Karnel Singh

Kisah Dokter Teladan Kabupaten Maluku Tenggara 2015: dr. Karnel Singh

12 Nopember 2015

Salah seorang anggota doctorSHARE, dr. Karnel Singh, mendapat penghargaan sebagai Dokter Teladan Kabupaten Maluku Tenggara 2015. Dokter kelahiran 12 Desember 1988 lulusan Fakultas Kedokteran Ukrida ini menjadi dokter PTT di Kei Besar, Maluku Tenggara. Berikut adalah sepenggal lika-liku kisah menariknya selama melayani dua tahun di daerah berkategori “sangat terpencil“ tersebut.     


Langkah Pertama di Kei Besar
Nama saya Karnel Singh. Saya bekerja sebagai seorang dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) yang dikontrak oleh Kementrian Kesehatan RI sejak September 2013 hingga Agustus 2015 yang bertugas di Provinsi Maluku tepatnya di Puskesmas Mun, Pulau Kei Besar, Kecamatan Kei Besar Utara Barat, Kabupaten Maluku Tenggara dengan kriteria “sangat terpencil”.

 

Wilayah kerja Puskesmas saya cukup luas yaitu 17 desa. Selain untuk mengembangkan karir, tujuan saya menjadi dokter PTT adalah untuk membantu Panti Rawat Gizi (Therapeutic Feeding Center) yang merawat anak-anak gizi buruk. Panti ini milik doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli), sebuah organisasi swasta bidang medis dimana saya telah bergabung di dalamnya sejak masa pendidikan dulu.

 

Pertama kali datang, saya tidak sendiri. Saya tiba dari Jakarta bersama teman-teman sejawat lain dari berbagai wilayah di Indonesia dengan tempat penugasan yang sama yaitu Kabupaten Maluku Tenggara. Total dokter yang dikirim saat itu 6 dokter yang terdiri dari 4 dokter umum dan 2 dokter gigi.

 

Tiba di wilayah penugasan, saya sudah merasakan atmosfer yang berbeda mulai dari pesawat yang ditumpangi hingga bandara yang begitu ramai oleh penduduk sekitar. Jarak mereka cukup berdekatan dengan pesawat sehingga dapat menyaksikan berbagai aktivitas yang terjadi di bandara tersebut.

 

Setelah beberapa hari mengurus berkas-berkas di Dinas Kesehatan Kabupaten, akhirnya kami mendapatkan tempat penugasan masing-masing. Untuk mencapai tempat penugasan saya, dari pusat Kabupaten saya masih harus menyeberang pulau dengan menggunakan sebuah kapal cepat selama kurang lebih 1 jam dan setelahnya menggunakan open speed boat selama 1 jam.

 

Mengobati Sekaligus Mengajar
Seluruh wilayah kerja Puskesmas tempat saya bertugas merupakan wilayah pesisir pantai yang belum dialiri listrik dari PLN. Praktis pasokan listrik hanya didapat dari mesin-mesin genset (generator) baik milik pribadi maupun milik desa. Ketersediaan air bersih juga tak jarang menjadi masalah.

 

Sumber air bersih yang tersedia di tempat saya bertugas berasal dari air pegunungan yang sumbernya cukup jauh, yaitu sekitar 8 km dari pemukiman penduduk yang dialirkan masuk ke dalam desa melalui pipa. Bayangkan, berapa ribu pipa yang terbentang untuk mengalirkan air bersih ke dalam desa. Tak jarang pipa-pipa tersebut bocor, tersumbat atau bahkan terputus.

 

Beberapa kali saya pun terpaksa menggunakan air hujan untuk keperluan MCK. Sinyal telekomunikasi juga jadi kendala pada awal-awal masa saya bertugas. Hanya ada satu operator seluler yang berfungsi, itupun sinyalnya tak dapat digunakan di seluruh desa, hanya di tempat-tempat tertentu saja. Kondisi sinyal kini sudah jauh lebih baik karena dapat menjangkau seluruh desa.

 

Fasililtas jalan aspal pun kini dapat diakses warga walau masih amat jarang digunakan karena sangat sedikit warga yang mempunyai kendaraan. Setidaknya, warga memiliki alternatif jalan darat ketika musim ombak walau hanya dengan berjalan kaki.

 

Sejalan dengan akses dan infrastruktur yang serba terbatas, kondisi awal kesehatan masyarakat saat saya tiba pertama kali pun cukup menyedihkan. Penyebabnya adalah kekosongan tenaga dokter di tempat saya bertugas selama beberapa bulan padahal sudah banyak sekali masyarakat yang butuh pertolongan medis.

 

Jumlah staf di Puskesmas tempat saya bekerja memang sangat minim. Oleh karenanya, saya harus siap merangkap beberapa pekerjaan sekaligus. Seringkali saya merangkap sebagai petugas pendaftaran, petugas apotek, petugas gudang obat, hingga petugas kebersihan. Semua saya jalani demi tersedianya pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan di tempat saya bertugas.

 

Selain bekerja di Puskesmas, saya juga mengisi waktu luang dengan menulis berbagai artikel yang sekiranya dapat berguna untuk melanjutkan studi spesialisasi saya dan sesekali menyempatkan waktu untuk mengajar di sekolah dasar tempat saya bertugas. Saya melakukannya setelah melihat jumlah tenaga pengajar yang amat minim sedangkan angka buta aksara sangat tinggi.

 

Jeritan Ibu Bersalin
Suatu malam sekitar pukul 19.00 WIT, seorang bapak menghampiri saya untuk menginformasikan sekaligus memohon bantuan. Salah seorang anggota keluarganya sedang dalam proses persalinan yang dibantu oleh tenaga dukun kampung namun mengalami kesulitan karena letak bagian bawah janin pada pintu lahir adalah kaki.

 

Saya pun bergegas mempersiapkan alat-alat medis yang diperlukan dan langsung berangkat ke desa tempat pasien berada. Saya berangkat menggunakan speed terbuka selama kurang lebih 15 menit. Keadaan laut saat itu cukup berombak dan cukup gelap karena hanya mengandalkan penerangan dari sinar senter yang saya bawa.

 

Setibanya saya di rumah pasien, saya langsung melakukan pemeriksaan. Bagian bawah janin pada pintu jalan lahir adalah kaki dan buah zaka. Selanjutnya, saya langsung memasang infus dan menjelaskan pada pasien beserta keluarganya bahwa saat ini sebaiknya pasien ditangani di rumah sakit.

 

Rumah sakit memiliki sarana yang lebih memadai dan ada tenaga dokter spesialis kandungan sebab tidak menutup kemungkinan pasien akan membutuhkan transfusi darah ataupun tindakan operatif. Namun faktor cuaca yang kurang baik untuk menyeberang pulau akhirnya membuat pihak keluarga memutuskan tetap di desa dan menerima apapun resiko yang mungkin akan terjadi.

 

Sang ibu terus berteriak karena merasakan nyeri selama proses persalinan berlangsung. Nyeri yang dialami bahkan membuat ia sempat meminta saya menikam bayinya. Saya berusaha semaksimal mungkin, dibantu pihak keluarga pasien yang juga terus memberikan semangat kepada sang ibu.

 

Tengah malam, akhirnya bayi lahir dengan selamat, begitu juga dengan sang ibu yang dapat melalui proses persalinannya dengan selamat. Pengalaman menegangkan ini sangat membekas dalam hati saya hingga hari ini. Memang tidak semua desa dapat saya jangkau setiap waktu.

 

Sebagian desa yang terletak di ujung pulau tidak dapat dijangkau melalui jalur laut pada musim tertentu karena ombaknya tinggi, belum lagi angin yang begitu kencang. Melalui jalur darat pun sulit karena fasilitas jalan aspal belum tersedia.

 

Keterbatasan-keterbatasan ini membuat kami selaku petugas kesehatan kesulitan menjangkau masyarakat yang membutuhkan tenaga dan fasilitas kesehatan. Akibatnya, cukup banyak timbul penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dikurangi tingkat keparahannya bila ditangani sedini mungkin.

 

Perasaan saya sangat bercampur aduk ketika akan meninggalkan tempat tugas. Di satu sisi, senang rasanya menyadari bahwa saya akhirnya mampu bertahan dan bersahabat dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari dan akan kembali ke Jakarta untuk berkumpul kembali dengan keluarga.

 

Pada saat bersamaan, saya sangat sedih meninggalkan tempat tugas sebab rasa kekeluargaan antara saya dan warga masyarakat telah terbangun. Perasaan sedih ini membuat kami tak mampu menahan keharuan yang sangat mendalam. Kami sama-sama meneteskan air mata. Saya sungguh berharap dan berdoa agar kondisi mereka dalam segala bidang kehidupan akan membaik dari hari ke hari.  

 

Dokter Teladan Kabupaten Maluku Tenggara 2015
Setelah menjalankan tugas selama kurang lebih 1,5 tahun, timbul inisiatif dari warga untuk memberikan apresiasi kepada saya atas apa yang telah saya lakukan. Apresiasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Desa tempat saya bertugas kepada Kepala Dinas Kesehatan Maluku Tenggara.

 

Setelah dilakukan berbagai penilaian, akhirnya saya terpilih untuk menjadi Dokter Teladan Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2015. Saya sungguh merasa bangga, terharu, dan bahagia ketika mengetahui bahwa saya mendapatkan penghargaan ini.

 

Ini menunjukkan bahwa apa yang telah saya lakukan selama berkarya sebagai dokter PTT mendapatkan hati masyarakat hingga timbul apresiasi dari pemerintah daerah setempat untuk memberikan penghargaan ini kepada saya. Penghargaan ini sangat berarti bagi saya secara pribadi. Segala perjuangan dan pengorbanan yang saya lakukan selama menjadi dokter PTT membuahkan hasil yang baik.

 

Namun sesungguhnya di luar sana banyak pula para teman sejawat maupun paramedis yang mempunyai loyalitas dan dedikasi tinggi dalam menjalankan pekerjaannya yang belum mendapatkan apresiasi secara khusus. Saya berharap agar kelak mereka juga dapat mendapat perhatian, paling tidak hak-haknya diberikan secara penuh.

 

Teman-teman sejawat yang berencana melakukan pengabdian, jangan pernah ragu melakukannya bagi saudara-saudara kita, khususnya di daerah sangat terpencil, pulau terluar dan daerah perbatasan. Mereka benar-benar sangat membutuhkan tenaga, pelayanan, dan juga buah pikir kita.

 

Teman-teman yang sedang menjalani pengabdian, mengabdilah sungguh-sungguh dengan hati tulus karena niscaya kita akan mendapat hal luar biasa, lebih dari sekedar gaji yang kita terima. Meskipun sulit, jangan pernah putus asa karena kita tahu bahwa apa yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia.

 

* * *

 

Goresan Relawan

Panggilan untuk Melayani