Kabar Terkini
Apa Kabar Keluarga Saya?

Apa Kabar Keluarga Saya?

29 Februari 2016

Oleh: Lie Mei Phing (Relawan doctorSHARE)

 

Badan boleh kecil, tapi semangat bidan Jenni tak tertandingi. Bermandikan keringat karena terik mentari Papua, bidan manis dengan tinggi 151 sentimeter tersebut bergerak lincah dari pasien ke pasien, dokter ke dokter. Betapa gesit ia membantu di mana saja dan kapan saja.

 

Antusiasme masyarakat terhadap pelayanan medis Flying Doctors doctorSHARE di Kampung Basman memang sangat luar biasa. Nyaris seluruh anggota tim kewalahan menghadapi kerumunan pasien yang seolah tak habis datang dari berbagai penjuru. 

 

Selain Kampung Basman, banyak pasien berdatangan dari kampung-kampung tetangga seperti Kampung Muu Satu hingga Kampung Senggo yang berjarak 3,5 jam perjalanan menyusuri rawa dengan speedboat. Bahkan adapula pasien yang datang jauh dari Kampung Yaniruma dimana mereka harus mengayuh perahu dayung semalaman.

 

Suatu senja ketika pelayanan medis usai, bidan Jenni berujar, “bertugas di daerah rawa ini pilihan. Saya merasa tergerak melayani mereka yang tinggal di daerah sulit akses medis dan merasakan kehidupan yang mereka alami….”

 

Mata bidan Jenni menerawang. “Sejauh ini, saya merasa gembira dengan pilihan hidup yang saya ambil. Tapi barangkali ada satu hal yang terkadang berat untuk saya… Saya sering kangen keluarga. Sulit untuk mendapat berita tentang kondisi mereka karena tidak ada signal di daerah tugas saya.”

 

Jika rasa kangen melanda atau rasa khawatir akan kesehatan orang tua menyergap, bidan Jenni menggunakan radio SSB (Single Side Band). Ia minta tolong rekan tenaga medis di lokasi yang lebih bersignal untuk menelepon keluarganya. Kabar yang diterima lalu disampaikan kembali padanya, juga melalui radio SSB.

 

Lumayan. Paling tidak rasa penasarannya terobati walau tak bisa mendengar langsung suara orang tua dan saudara-saudaranya tersayang.

 

Bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial. Jadi bagian komunitas merupakan kebutuhan primer yang mempengaruhi kepuasan hidup dan terutama kesehatan mental. Minimnya infrastruktur di daerah terpencil Indonesia bukan hanya jadi momok bagi masyarakat setempat. Bidan macam Jenni pun kena getahnya.

 

Tak banyak tenaga ahli yang mampu bertahan seperti bidan Jenni. Gaji yang lebih tinggi dan fasilitas tinggal yang “dipaksa” dibuat nyaman tak cukup menjadikan daerah pengabdian sebagai rumah baru yang home sweet home. Keterisolasian dari dunia luar adalah masalah yang mesti dientaskan – selain penyakit dan kebodohan.

 

Apakah lancarnya akses komunikasi bisa menjamin dokter dan guru pindah berbondong-bondong ke daerah terpencil? Ah, mungkin tidak. Tapi komponen penting ini wajib mendapat perhatian, terutama jika kita punya harapan besar melihat tenaga ahli terdistribusi lebih merata hingga ke wilayah paling pelosok. 

 

* * *

 

Goresan Relawan

Panggilan untuk Melayani