Kabar Terkini
Kisah Dokter PTT Kabupaten Mappi, Papua: dr. Eduward Pasangka

Kisah Dokter PTT Kabupaten Mappi, Papua: dr. Eduward Pasangka

1 Maret 2016


Pelayanan medis tim Flying Doctors (Dokter Terbang) doctorSHARE 17 – 26 Februari 2016 di Kabupaten Mappi, Papua, tak lepas dari dukungan para tenaga medis setempat, termasuk dr. Eduward Pasangka. Pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Cendrawasih ini menjadi dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) yang ditempatkan di Kabupaten Mappi. Berikut adalah kisah menariknya sebagai dokter sekaligus Kepala Puskesmas di wilayah yang hanya terakses lewat sarana transportasi air ini.


Doa Sang Dokter Kandungan
Nama saya dr. Eduward Pasangka. Saya lahir di kota Biak, 2 November 1987, anak kedua dari tiga bersaudara. Saya memiliki saudara kembar yang juga seorang dokter. Jalan tuhan memang sungguh tidak terduga. Lahir dari latar belakang keluarga sederhana, kedua orang tua saya mampu menyekolahkan kami berdua hingga lulus menjadi seorang dokter.


Berawal dari kelahiran kami, dokter spesialis kandungan yang saat itu membantu ibu saya dalam persalinan berguman: “Bila Tuhan berkenan kedua anak selamat, saat besar nanti sekolahkan mereka menjadi dokter.”


Ucapan tersebut merupakan motivasi semangat yang ditularkan sang dokter kepada ibu karena keadaan kami saat lahir yang sangat membutuhkan perhatian khusus. Pesan pendek dari sang dokter inilah yang dipegang teguh orang tua saya hingga dalam peluh keringat mereka, kami pun lulus menjadi dokter.


Saat ini, saya bekerja di Kabupaten Mappi – Papua sebagai Dokter PTT Pusat dibawah Kementerian Kesehatan RI terhitung sejak April 2014. Oleh Dinas Kesehatan setempat, saya ditempatkan di Puskesmas Amazu Distrik Kaibar sebagai dokter fungsional sekaligus Kepala Puskesmas.


Wilayah Kerja Nan Luas
Puskesmas Amazu terletak di Distrik Kaibar, satu dari beberapa distrik Sangat Terpencil (ST) dalam wilayah kerja Kabupaten Mappi. Akses menuju distrik tempat saya bertugas adalah jalur sungai yang dapat ditempuh dengan mengunakan speed. Jarak tempuh dari ibukota kabupaten ke wilayah ini kurang lebih 7 – 8 jam sekali jalan, tergantung ada tidaknya hambatan dalam perjalanan.


Wilayah kerja saya dalam pelayanan kesehatan meliputi dua distrik yaitu Distrik Kaibar dan Distrik Tizain. Distrik Tizain adalah distrik yang terletak bersebelahan dengan Distrik Kaibar. Distrik Tizain belum memiliki puskesmas definitif dan tenaga dokter. Hal ini mengharuskan saya melakukan pelayanan secara bergantian di kedua distrik tersebut.


Luasnya wilayah kerja cukup menyulitkan saya dalam membagi waktu dalam pelayanan. Total kampung/pos pelayanan kedua distrik ini berjumlah 17 pos yang tiap bulannya wajib dikunjungi oleh minimal empat petugas dalam kegiatan rutin yang disebut Puskesmas Keliling.


Komposisi keempat petugas tersebut yaitu seorang dokter, seorang perawat, seorang bidan, dan seorang tenaga medis lainya. Tidak jarang dalam sebulan terdapat kampung/pos pelayanan yang tidak dapat saya kunjungi. Meski demikian, dalam bulan tersebut kampung atau pos pelayanan tetap mendapat kunjungan dan pelayanan kesehatan dari staf atau petugas medis lain dari puskesmas. 


Liku Mengemban Misi Pelayanan Kesehatan di Mappi
Dalam pelayanan, banyak kendala yang saya hadapi. Selain wilayah pelayanan yang luas, perubahan musim setiap tahunnya menjadi faktor menyulitkan lainnya. Sebagian besar wilayah Distrik Kaibar dan Tizain juga merupakan dataran rendah yang dialiri sungai. Oleh sebab itu, akses antar desa menggunakan transportasi air.


Keadaan ini menyebabkan proses pelayanan kesehatan sangat bergantung penuh pada debit air sungai. Di musim kemarau, debit air sungai tentu akan berkurang sehingga transportasi air menggunakan speed yang biasa kami gunakan harus beralih ke sarana transportasi air lain yaitu perahu kayu bermesin yang disebut ketinting. Sekalipun demikian, masih terdapat beberapa kampung yang saat musim kemarau hanya dapat diakses dengan berjalan kaki yang jarak tempuh paling lama sekitar 3 jam.


Tantangan lain selama bertugas adalah status saya sebagai Kepala Puskesmas. Selain fungsi pelayanan kesehatan, saya juga harus menjalankan fungsi struktural. Sebagai atasan, memimpin total 20 staf dengan berbagai karakter telah menjadi menu sehari-hari. Sebagai kepala puskesmas, saya memiliki kewajiban menjadi suri tauladan bagi seluruh rekan saya.


Saya pun dituntut bertanggung jawab penuh terhadap kegiatan pelayanan dan puskesmas, berikut seluruh staf yang ada di lingkup kerja Puskesmas. Dalam kegiatan pelayanan luar gedung, sudah menjadi tugas saya mengirim petugas dalam pelayanan ke kampung/pos pelayanan. Pada saat bersamaan, saya juga perlu memastikan mereka kembali dengan selamat.


Kelancaran pelayanan dan keamanan petugas medis sudah menjadi tanggung jawab yang harus saya emban. Saya bersyukur saat ini saya mendapat banyak sekali bantuan dari rekan kerja. Hal ini tentu saja menjadi motivasi tersendiri bagi saya dalam menjalankan pelayanan, layaknya kepala yang tidak mungkin berada di tempat lain tanpa bantuan kaki.


Selama bertugas, saya banyak belajar bahwa tidaklah mudah menjadi seorang pemimpin. Saya juga menyadari belum banyak yang saya berikan untuk masyarakat. Sampai saat ini, semangat yang ditularkan dokter kandungan pada ibu menjadi pegangan bagi saya untuk terus berkarya dengan hati. Terima kasih Ibu, terima kasih Amazu, terima kasih rekan-rekan!


* * *

Goresan Relawan

Panggilan untuk Melayani