Kabar Terkini
dr. Ivan Reynaldo Lubis: Wujud Nyata Mimpi “Tinggi”

dr. Ivan Reynaldo Lubis: Wujud Nyata Mimpi “Tinggi”

1 April 2016

Jangan pernah remehkan sebuah mimpi, apalagi bila disertai harapan dan niatan tulus…

Dalam hidup, saya banyak dapat kesempatan bermimpi. Kebanyakan adalah mimpi yang amat “tinggi” untuk dicapai. Saya pun terbiasa rela menghadapi kenyataan bahwa semuanya hanya sekadar mimpi yang tak selalu dapat diwujudkan. Salah satunya adalah mimpi untuk bergabung dalam pelayanan medis doctorSHARE.

Saya mengenal rekan-rekan doctorSHARE ketika mereka mengadakan pelayanan medis di Sumba Barat Daya bulan Maret silam. Kebetulan, seorang konsulen ketika saya dulu bekerja di Surabaya ikut bersama rombongan doctorSHARE.

Saya sendiri sudah berada di Sumba Barat Daya selama sekitar empat bulan dalam rangka menjalankan profesi sebagai PTT (Pegawai Tidak Tetap). Atas saran beliau, saya menjumpai mereka ketika sedang persiapan di lapangan. Saya berjumpa koordinator lapangannya yaitu dr. Christ Hally. Saya diterima dengan sangat ramah bukan saja oleh dr. Christ tapi juga oleh seluruh tim.

Sepulang dari Sumba, saya diajak koordinator lapangan berikutnya yaitu dr. Vanessa untuk ikut bergabung dalam pelayanan selanjutnya di Kabupaten Belu, Atambua.

“Eh, seriusan nih?”

Betapa tidak, sebelumnya saya hanya bisa berangan-angan lalu tahu-tahu diajak bergabung. Lebih dari itu, saya langsung ditawarkan menjadi asisten dr. Lie Dharmawan. Toilet seketika menjadi kawan akrab saking groginya. Hari kedua dimana operasi mayor akan dilaksanakan, sepagian saya diliputi cemas menunggu kedatangan dr. Lie dari bandara.

Cemas ini bukan karena saya takut beliau. Saya khawatir performa saya sebagai asisten mengecewakan sehingga menghambat jalannya kegiatan pelayanan medis. Di samping itu, bertemu seorang inspirator bagi banyak orang yang sebelumnya hanya bisa ditatap lewat layar kaca tentu menimbulkan sensasi tak menentu, seperti menembak kecengan sejak SD hingga 15 tahun setelahnya. Kalau diterima, berasa mimpi. Kalau ditolak, nangis berdiri.

Tapi semua ketakutan itu tidak terbukti. Beliau sosok yang sangat ramah dan mengayomi. Penuh canda, namun ketika operasi menjadi sangat tegas. dr. Lie membimbing saya dengan sabar. Banyak ilmu yang beliau bagikan kepada saya terkait hal bedah.

Beberapa kali saya sempat ditegur. Dari luar, saya mungkin terlihat seperti peyoga profesional saking tenangnya menghadapi teguran itu. Tapi dalam hati, ingin segera nyungsep di dalam lemari penyimpanan kain linen. “Ah, gue nggak bakal diajak lagi nih. Mimpi gue harus dikubur dalam-dalam nih. Apa gue harus lari ke hutan lalu belok ke pantai?” Stress rasanya.

Namun beliau melihat saya dengan positif dan memberi masukan yang positif pula. Saya sampai merasa perlu bertanya ulang kepada dr. Vanessa, ”loe yakin cuma itu aja kata dr. Lie tentang gue? Yang negatif-negatifnya apaan dong?” Sampai di sini, semuanya masih terasa seperti mimpi.

Malam usai seharian operasi, saya berkesempatan mendengar kesaksian dr. Lie mengenai hidup dan penggilan pelayanannya. Duduk di kursi dengan santai, tanpa jarak dan kekakuan, saya mendengar banyak cerita inspiratif yang membuat saya makin banyak belajar tentang panggilan kemanusiaan, terutama kehormatan bekerja sebagai dokter. Belum pernah emosi saya diaduk-aduk seperti itu. Sehebat-hebatnya barisan para mantan mengocok emosi saya, malaikat juga tahu dr. Lie adalah juaranya.

Pelayanan medis bersama doctorSHARE ini menjadi salah satu pengalaman luar biasa selama menjadi dokter. Betapa tidak, saya menemukan tim yang sangat solid, bekerja dengan hati, tidak hitung-hitungan, tidak saling menuding, dan bekerja dengan antusiasme yang tinggi.

Saya tidak merasa seperti anak baru. Penerimaan hangat adalah penyebabnya. Bila ditanya apakah saya bersedia bila diajak kembali, tidak butuh waktu lama untuk memberi jawaban. Ikut pelayanan semacam ini seperti mengisi kembali semangat dan antusiasme sebagai dokter, terutama bagi saya yang bekerja di daerah periferi.

Ada hal menarik dalam perjalanan pulang dari Atambua menuju Kupang melewati jalan darat (selanjutnya saya terbang dari Kupang menuju Sumba). Malam itu, dalam perhentian bis di rest area, saya disapa seorang ibu bersama anaknya karena saya mengenakan baju doctorSHARE. Ia mengungkapkan terima kasih karena suaminya telah ditolong dalam operasi sehari sebelumnya.

Sejujurnya saya tidak ingat yang mana suaminya, tetapi kenyataan bahwa doctorSHARE telah menolong suaminya membuat saya merasa bahwa pelayanan kami telah banyak membantu banyak orang. Menjadi bagian dalam misi tersebut membuat saya merasa bangga dan bersyukur.

Tuhan memang sangat baik. Dia tahu bahwa saya perlu mendapat banyak pengalaman dan pembelajaran untuk menjadi dokter yang bekerja dengan hati dan melayani dengan tulus. Melalui doctorSHARE, saya diingatkan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk direngkuh. Apalagi bila mimpi itu demi kebaikan. 

* * *

Goresan Relawan

Panggilan untuk Melayani