Kabar Terkini
Kaskado: Penyakit Kulit Khas Indonesia Timur

Kaskado: Penyakit Kulit Khas Indonesia Timur

29 Agustus 2017

Penulis: Aflah Satriadi

Deru suara ombak terdengar dari sebuah rumah di Pulau Mbromsi, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Tidak ada yang istimewa dari rumah ini, beratapkan seng dan lantai dilapisi semen. Pada bagian rumah yang berdinding kayu, angin laut menyusup lewat celah-celahnya. Suasana diramaikan sejumlah anak-anak kecil yang tengah bermain bersama binatang peliharaan. Anak-anak tersebut merupakan anak dari si pemilik rumah, Maurit Amos Rumbia.

Saat tim doctorSHARE melaksanakan Pelayanan Medis di Pulau Mbromsi, Maurit mendaftarkan diri sebagai pasien. Bapak yang bekerja sebagai nelayan ini mengeluhkan kondisi kesehatan kulitnya. Terlihat kulit Maurit seperti bersisik dan terkelupas kulit bagian luarnya. Hampir sekujur tubuhnya ditemukan kulit dalam kondisi yang sama. Menurutnya, keadaan kulit tersebut menganggu saat iya bekerja. Ketika berkeringat tak jarang ia merasa gatal dan menggaruknya.

Sejak umur enam tahun Maurit hidup dalam keadaan kesehatan kulit yang bermasalah. Maurit pernah merasa malu saat ia masih duduk di bangku sekolah. Tak jarang rekan-rekan Maurit di sekolah menjauhinya karena takut tertular. “Waktu masih SD SMP juga penyakit ini sudah ada, jadi terganggu dalam belajar, tidak punya teman baik-baik karena ini. Jadi sampai tamat SMA kurang bergaul to,” tutur Maurit.

Keluhan serupa juga ditemui tim doctorSHARE saat melangsungkan Pelayanan Medis di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Fransisco Dickson, seorang pelajar yang datang berobat ditemani ibunya. Kondisi kulit Fransisco tidak berbeda jauh dengan Maurit, seperti bersisik dan terkelupas bagian luarnya. Ibu kandung Fransisco, Estherio Yoku percaya penyebab penyakit kulit anaknya adalah dari air yang kotor.

Kulit-kulit yang terkelupas jika diperhatikan membentuk pola seperti ukiran atau gambar pada kain batik. Keberadaannya tersebar di seluruh bagian tubuh, namun umumnya berada di bagian leher hingga dada. Masyarakat di Papua biasa menyebutnya penyakit Kaskado. Masyarakat bisa mengetahui Kaskado berdasarkan identifikasi dari bentuk atau polanya yang khas.

Dokter spesialis kulit di Biak, dr. Irene Mariani Santoso, Sp.KK menjelaskan penyakit Kaskado disebut Tinea Imbrikata dalam istilah medis. Kaskado merupakan salah satu infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur Trichophyton Concentricum. Keunikan Kaskado menurut dr. Irene yakni hanya ditemukan di daerah-daerah Indonesia Bagian Timur. 

“Gejalanya sendiri kalau jamur pada kulit itu di kulitnya ada sisik-sisik yang bentuknya itu seperti ukiran. Jadi kita bilangnya itu Polycyclic, bentuknya melingkar seperti tersusun konsentris seperti genting, kalau teorinya seperti itu,”  kata dr. Irene.

Penularan Kaskado berawal dari kontak manusia ke manusia, kontak tersebut dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Keluarga, teman bermain, dan tetangga berpotensi saling menularkan jika salah satunya penderita Kaskado. Maurit misalnya, ia diceritakan orang tuanya tertular Kaskado dari tetangganya sejak ia berumur enam tahun.

“Kalau Kaskado ini saya tanya ke orang tua saya kenapa bisa kena Kaskado, itu menular dari tetangga saat masih enam tahun. Main di tetangga ternyata Kaskado ini tertular ke saya,” ujar Maurit saat ditemui di halaman rumahnya.

Menurut dr. Irene pengobatan Kaskado memakan waktu yang cukup lama. Infeksi jamur Tinea Imbrikata biasanya membutuhkan waktu sampai empat minggu untuk minum obat. Obat-obatan untuk Kaskado bukanlah obat yang sulit didapat, masyarakat bisa mendapatkan obat tersebut di Puskesmas. Sulitnya sembuh dari Kaskado dikarenakan kepatuhan penderita saat meminum obat. Jika rutin meminum obat sesuai anjuran dokter tentu Kaskado bisa disembuhkan.

“Kadang-kadang pasien tidak telaten, jadi misalnya sudah satu minggu dia minum obat. Sudah rasa mulai hilang dia stop, padahal sebenarnya jamurnya masih ada hanya dia sembunyi.” jelas dr. Irene.

Penderita Kaskado bisa sembuh dalam kurun waktu empat minggu jika rutin meminum obat. Jika tidak rutin, Kaskado memang akan hilang tapi kemudian muncul kembali. Kemudian waktu penyembuhan akan lebih lama yakni enam sampai delapan bulan. “Hanya butuh kepatuhan pasien dalam meminum obatnya, penjelasan ke pasien bahwa ini memang harus minum obatnya lama,” tutup dr. Irene.

Usaha pencegahan datangnya Kaskado tidak terlalu sulit. Hanya perlu menjaga kebersihan tubuh dengan mandi rutin dengan menggunakan antiseptik. Kaskado mudah menyerang kulit ketika kulit dalam dibiarkan dalam kondisi kotor. Misalnya setelah berkeringat akibat seharian bekerja atau setelah berenang di laut. Pola hidup bersih dan sehat menjadi kunci utama dalam mencegah penyakit yang menyerang tubuh.

* * *