Kabar Terkini
Ciut Nyali Kala Pengobatan

Ciut Nyali Kala Pengobatan

20 September 2017

Penulis: Panji Arief Sumirat

Usman Sehe mengaku gelisah saat tim Pelayanan Medis doctorSHARE hendak memeriksanya. Ketakutan kerap muncul saat dirinya hendak diperiksa oleh dokter. Sebelum diperiksa, Usman terlihat mondar-mandir di sekitar dermaga tempat RSA dr. Lie Dharmawan sandar. Sesekali ia melongok ke dalam melalui pintu kecil kapal. Seolah menilik apa yang sedang terjadi di dalam rumah sakit terapung tersebut.

Nama Usman masuk dalam daftar pasien operasi mayor, saat Pelayanan Medis doctorSHARE di Desa Wayabula, Kec. Morotai Selatan Barat, Kab. Morotai, Maluku Utara. Pria berumur 55 tahun tersebut bukan penduduk asli Wayabula. Ditemani istrinya Usman datang dari Ibukota Kabupaten Morotai, Daruba. Kabar keberadaan layanan operasi gratis diterima dari anaknya, seorang bidan di Puskesmas Wayabula.

Bapak dari empat anak itu sering mengeluh sakit pada bagian bawah perutnya. Sakitnya makin menjadi-jadi saat ia bekerja mengurus kebun. Keluhan tersebut pertama kali muncul pada 2014. Tak tahan dengan sakitnya, Usman bergegas memeriksa kesehatannya di rumah sakit. Usman di diagnosa menderita Hernia dan diharuskan menjalani operasi.

Saat divonis menderita Hernia, Usman tidak langsung mengikuti saran untuk menjalani operasi. Meskipun akhirnya Usman menjalani operasi juga pada 2017. Tim dokter operasi mayor doctorSHARE bertanya mengapa ia tidak langsung operasi. Alasan Usman hanya satu yaitu takut dioperasi. “Waktu itu masih takut-takut dioperasi di rumah sakit, saya belum siap,” ucapnya.

Usman bukanlah satu-satunya pasien yang takut akan pemeriksaan medis. Selama tim doctorSHARE di Wayabula, banyak masyarakat yang tidak datang saat hendak dioperasi, baik operasi besar ataupun operasi kecil. Tidak sedikit pula masyarakat yang sejak awal enggan datang memeriksakan kesehatannya. Kepala Puskesmas Wayabula, Wayyama Wabula membenarkan kondisi masyarakat tersebut.

“Mereka ngomongnya takut. Entah takutnya seperti apa saya juga kurang tahu begitu. Sebagian besar takut untuk berobat,” tutur Wayyama saat ditemui di Puskesmas Wayabula.

Wayyama mengeluhkan kondisi tersebut, berkali-kali masyarakat dibujuk namun tetap sulit. Menurutnya masyarakat baru akan pergi berobat ketika sudah dalam keadaan sangat buruk. Apabila penyakitnya dianggap sudah parah, barulah masyarakat pergi memeriksa. “Nanti kalau sudah diambang maut baru mereka mau,” tambah Wayyama.

Hal senada juga diungkapkan oleh dokter spesialis bedah di RSUD Morotai, dr. Agung Sindu Pranoto, SpB. Menurutnya tantangan lebih besar saat membujuk masyarakat menjalani tindakan operasi. Ketakutan kerap kali menjadi alasan utama untuk menunda bahkan menolak. Kejadian tersebut hampir terjadi pada masyarakat di Kabupaten Morotai.

“Apabila ada kasus-kasus yang perlu tindakan operasi, meskipun tim medis itu sudah edukasi untuk operasi tetap masyarakat itu cenderung menolak. Biasanya memang pasien datang dalam kondisi yang sudah parah, di situ baru mereka mau dioperasi,” kata dr. Agung.

Faktor Kepercayaan

Menurut dr. Agung minat masyarakat Morotai terhadap tindakan operasi masih kurang. Selain faktor edukasi, faktor kebiasaan perihal kesehatan juga masih kuat. Tidak sedikit masyarakat yang masih percaya dengan pengobatan tradisional. Kepercayaan tersebut terjadi secara turun-temurun hingga sampai saat ini. Sehingga beberapa desa di Morotai masih memegang teguh kepercayaan leluhur.

Dukun menjadi sosok yang dipercaya masyarakat untuk menyembuhkan penyakit, bahkan membantu persalinan saat melahirkan. Masyarakat percaya selama masih disembuhkan di dukun, maka tidak perlu pergi ke dokter. Obat-obatan atau ramuan tradisional menjadi anjuran ke pasien dalam usaha menuju kesembuhan.

Kepala Desa Wayabula, Alimin Mansur selalu mengingatkan masyarakat untuk berobat ke Puskesmas. Ia melarang setiap warganya pergi ke dukun, terlebih dalam urusan melahirkan. Setiap warga yang hendak melahirkan harus pergi ke bidan desa. Sering waktu angka melahirkan di rumah dengan bantuan dukun terus menurun. 

“Saya tekankan kepada masyarakat untuk tidak melahirkan di rumah, kalau ada kejadian kematian bayi atau bahkan ibunya bagaimana. Jadi harus minta bantuan ke bidan desa,” tutur Alimin.

Satu-satunya cara mengatasi ketakutan masyarakat akan pengobatan secara medis, menurut dr. Agung yaitu memberikan informasi yang detail bahkan sampai resiko terburuknya. Tugas seorang dokter selain membantu menyembuhkan adalah mengedukasi masyarakat. Pengetahuan yang minim masyarakat akan kesehatan sangat berpengaruh.

“Hanya dengan cara tersebut masyarakat akan mengerti dan mengubah pola pikirnya. Selain itu kita juga berani meyakinkan bahwa ini tindakan yang aman, jika dilakukan sesuai dengan standar prosedur yang tepat,” tutup dr. Agung.

* * *