Kabar Terkini
Pala dan Kehidupan Masyarakat Banda

Pala dan Kehidupan Masyarakat Banda

16 Oktober 2017

Penulis: Jonathan Adrian

Pala di Kepulauan Banda, Maluku sudah jadi bagian dari masyarakat. Berbagai olahan dari cemilan hingga minuman keras bisa ada dari pala. Setiap orang mengambil bagian dalam industrinya, dari yang punya perkebunan sampai pedagang asongan.

Banda pernah jaya dengan pala, sampai-sampai pernah dijajah Belanda karena pala. Saat itu Banda dikenal satu-satunya penghasil rempah di dunia. Sementara sekarang, sudah banyak daerah lain di Indonesia yang menghasilkan pala
.
“Tapi tidak sebagus pala Banda,” tutur Pongky (61), pemilik perkebunan pala terbesar di Kabupaten Banda.

Menurut Pongky, daerah yang bisa menyaingi kualitas pala Banda adalah Aceh. Namun Aceh mengolah palanya saat masih muda. Sebagian besar dijadikan minyak. Sementara di Banda, pala dengan berbagai usia diolah jadi macam produk.

Pala muda dijadikan minyak. Buah pala dimasukan semuanya dalam air panas yang menguapkannya menjadi minyak. Menurut Pongky, hanya 10% dari total bahan baku yang dimasukan yang menjadi minyak. Inilah alasan harga minyak pala melambung. Ponky memonopoli komoditas minyak pala di Banda.

Sementara yang matang dibuat berbagai jenis. Dagingnya yang dipotong kecil dan direndam air garam dan gula menjadi manisan pala. Daging bisa juga direbus dan dimasak dengan gula hingga kental. Olahan macam ini akan menghasilkan selai pala.

Atau pala dapat direndam air dan difermentasi hingga menhasilkan kadar alkohol, jadilah dia sirup pala. Yang satu ini tidak dapat dibawa ke luar Banda menggunakan pesawat, karena dianggap minuman keras tak resmi. Sementara bijinya bisa ditumbuk menjadi pengawet makanan alami. Selaput merah yang melapisi bijinya dijadikan bumbu masak, ini yang paling mahal.

Orang Jerman paling sering datang ke Banda. Mereka bukan hanya wisata tapi melakukan penelitian dan pengembangan pala. Menurut Mei Usman (55) resep selai dan jus pala yang ada di Banda itu asalnya dari orang Jerman.

“Dulu kita (masyarakat Banda) hanya mampu bikin manisan saja,” kisahnya.

Masyarakat percaya pala mengandung banyak khasiat. Minyak pala contohnya dipercaya memberikan efek rileks pada penggunanya. Ini sering dijadikan obat insomnia. Meski jarang ada yang membeli untuk keperluan itu, karena harganya mahal sekali. Minyak pala lebih banyak digunakan sebagai bahan baku kosmetik atau minyak wangi.

Pala juga memiliki enzim lipase yang dapat meningkatkan nafsu makan dan melancarkan pencernaan, apalagi jika minum sirup pala, kandungan alkohol dalam sirup akan membuat pencernaan bablas bisa sampai mencret. Tapi sirup pala juga dipercaya mengobati asam urat dan rematik.

Kemudian pala memberi efek hangat seperti jahe dan cengkeh. Ini dapat membantu melancarkan peredaran darah dan mengeluarkan gas dalam tubuh. Ini jadi salah satu alasan pala diperebutkan orang Eropa.

Ditambah lagi pala dapat mengatasi mual dan muntah. Makin cocoklah buah berwarna kekuningan ini untuk dibawa melaut. Atau pada masa sekarang jadi teman perjalanan jauh bagi mereka yang mabuk transportasi.

Ratusan tahun silam, Belanda juga mengeksploitasi pala di Banda untuk kesehatan. Saat itu pala dijadikan obat penyakit sampar (plague) yang mewabah di Eropa. Akibatnya harga pala naik sepuluh kali lipat.

Enaknya pala ini tidak mudah basi. Alih-alih basi pala malah sering dijadikan pengawet. Jika buah lain basi dalam hitungan hari, pala bisa bertahan hingga berminggu-minggu. Ratusan tahun silam pala bahkan dijadikan pengawet makanan alami pengganti kulkas dan zat kimia.

Lantas apa memang tidak ada pilihan lain selain menanam pala? Sebenarnya ada, namun banyaknya populasi babi hutan menjadi masalah utama. Masyarakat tak berani menanam tanaman tani karena sering diinjak dan dirusak babi. Hama babi hutan tak terkendali karena tak ada yang bisa menangkap dan menanganinya. Penduduk Banda lebih memilih menghindari babi hutan dan menanam pala saja.

Jadi bagi masyarakat Banda pala barangkali bukan hanya bagian dari kehidupan, tapi pala adalah hidup itu sendiri. Pala jadi komoditas utama masyarakat. Pala jadi identitas daerahnya. Lebih jauh lagi, pala jadi obat mengatasi berbagai penyakit. Pala adalah penyokong hidup, hidup adalah pala.

* * *