Kabar Terkini
Bertaruh Nyawa, si Fakir Senyuman

Bertaruh Nyawa, si Fakir Senyuman

10 April 2018

Oleh: Stanley Saputra (Relawan Medis doctorSHARE)

"Bahwa terjun menjadi profesi kesehatan itu harus mengesampingkan keuntungan pribadi, bahwa menjadi pelayan kesehatan lebih dari sekadar pekerjaan keprofesian. Menjadi bagian dari doctorSHARE, menjadi sebuah senyum bagi mereka yang terpinggirkan karena demografi."

Perkenalkan nama saya Stanley Saputra. Saya adalah seorang apoteker yang lulus tahun 2015 lalu dari Universitas Pancasila. Dari kecil saya memang sudah memiliki minat untuk terjun dalam dunia sosial. Singkat cerita selesai studi keprofesian, saya mulai mencari peluang dimana saya bisa mengabdi.

Cukup kagum dengan sosok dr. Lie Dharmawan melalui percakapannya di Kick Andy, namun kala itu saya tidak berpikir untuk bergabung. Saat bekerja di kantor gubernur, saya kedatangan teman magang yang menjadi relawan di doctorSHARE. Ia bercerita bagaimana yayasan non-profit ini telah memberikan senyum bagi keluarga-keluarga kita di pulau terluar Indonesia, dan bagaimana yayasan ini menjadi perpanjangan tangan Yang Maha Kuasa. 

Tanpa berpikir panjang saya mendaftarkan diri menjadi relawan dan setelah melalui beberapa rangkaian proses, saya memulai perjalanan pertama saya di Pulau Morotai, Maluku Utara pada Juni lalu.

Pulau Morotai, Pulau Mayau, dan Banda Neira. Sedikit dari banyak pulau terasingkan oleh luasnya lautan yang pernah saya kunjungi. Menjadi penanggung jawab apotek dan kali pertama menjadi koordinator balai pengobatan, membukakan mata saya akan begitu bermanfaatnya menjadi tenaga kesehatan, apapun itu profesinya.

Walau baru menempuh tiga lokasi pelayanan medis, namun banyak menambah kenangan manis. Tiap lokasi memiliki cerita sendiri, dan Morotai manjadi pengalaman perdana. Meski perjalanan ditempuh seharian, pelayanan dimulai pagi hingga malam tanpa henti, hati terenyuh melihat bayi yang berhasil dilahirkan melalui operasi caesar, ketika kondisi ibu dan bayi tengah di ujung tanduk karena Ruptur Uteri. Ibu dan bayi berhasil selamat karena terdeteksi lebih awal, saat skrining kehamilan dengan USG waktu kapal memulai kegiatan.

Lain ceritanya di Pulau Mayau, kenangan memiliki tim yang sangat solid dan supportif terus berbekas di hati. Kala itu setelah melalui hari-hari di Mayau dan kapal akan segera bertolak kembali ke Ternate, kapal mengalami musibah karena badai kencang menerpa kapal. Badai yang terus menderu, menyebabkan pompa tak mampu mengeluarkan air yang masuk. Satu pompa mati, pompa lain juga ikut mati. 

Kami mulai berkumpul di atas dek, memanjatkan doa, berpegang tangan. Di langit mulai terlihat mercon, namun sayang nihil respon. Telepon satelit terus didayagunakan, menghubungi bantuan dari Ternate hingga Jakarta. Berjam-jam kami dihadang ombak. Kapal mencoba melaju, namun ombak terlalu liar. 

Asa mulai muncul ketika, radio mulai direspon oleh kapal kargo berbendera Hong Kong. Akhirnya kami selamat. Tak ada yang panik, tak ada yang saling menyalahkan satu sama lain kala itu. Semua saling bantu, walau jalan terlihat buntu. 

Terlalu berkesan untuk diceritakan, namun mungkin cukup menarik hati dalam bentuk narasi. Ikut doctorSHARE benar-benar membuka pikiran saya, baik dalam melihat realita kondisi kesehatan di Indonesia timur, maupun dalam tim sendiri. Saya kembali mengingat kembali basis dari seorang tenaga kesehatan. Berada dalam tim medis, saling berintegrasi dan saling membantu satu sama lain. 

Tidak ada pembatas antara profesi satu dengan yang lainnya, begitupula dengan kearogansian. Pandangan ini sama sekali tidak saya dapatkan saat bekerja di rumah sakit dulu, dan menurut saya nilai inilah yang pertama kali saya dapat ketika bergabung dengan doctorSHARE. 

Melihat lebih mendalam sisi Indonesia yang lain. Pengalaman pertama ikut terjun pelayanan di daerah terpencil mengarahkan saya terhadap pandangan lain tentang profil kesehatan setempat. Tidak diperlukan data-data dari badan riset atau dinas kesehatan untuk mengelaborasikan fasilitas kesehatan dan kondisi kesehatan penduduk yang sangat pelik. Warga harus menempuh perjalanan laut berjam-jam untuk ke rumah sakit terdekat, puskesmas setempat tidak memiliki fasilitas yang cukup serta tenaga kesehatan yang sangat minim. 

Sering berkutat dengan masalah kesehatan di Jakarta, dan saat terjun pada sisi Indonesia timur mengetahui bahwa perkembangan fasilitas kesehatan di sana perlu ditingkatkan. Disitulah doctorSHARE berada, mengisi kekosongan sistem kesehatan. Bukan menyalahkan pemerintah, namun justru menyokong pemerintah. Bukan sekedar padai beretorika, namun bisu aksi. Namun bisu suara jamak perbuatan. Indonesia maju bukan hanya tugas pemerintah, namun tugas kita semua.

* * *