Pelayanan Medis Panti Rawat Gizi doctorSHARE di Kei Besar, Maluku Tenggara (22-24 Oktober 2018)

Pelayanan Medis Panti Rawat Gizi doctorSHARE di Kei Besar, Maluku Tenggara (22-24 Oktober 2018)

30 Oktober 2018

Penulis: Olfi Fitri Hasanah

Tim relawan doctorSHARE melaksanakan pelayanan medis di wilayah Pulau Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara. 16 orang relawan baik medis maupun non-medis, turut serta menjadi anggota tim dan melayani masyarakat selama tiga hari, tepatnya pada 22-24 Oktober 2018.

Hari pertama dan kedua, pengobatan dilakukan di area Panti Rawat Gizi (PRG) doctorSHARE Kei Besar yang berjarak sekitar lima belas menit dari Pelabuhan Elat. Sementara, hari ketiga, tim menempuh perjalanan sekitar 90 menit menuju lokasi pelayanan berikutnya di Ohoi Kilwair.

Koordinator Lapangan Pelayanan Medis Kei Besar Oktober 2018, dr. Angelina Vanessa, menuturkan alasan pemilihan lokasi di Panti Rawat Gizi karena sekaligus ajang memperkenalkan PRG yang baru beroperasi kembali dalam tiga bulan terakhir.

“Setelah dua tahun vakum, panti baru jalan lagi dari Juli 2018. Jadi, sekalian aja biar pada tahu Panti Rawat Gizi sudah efektif beroperasi lagi,” imbuhnya.

Berbeda dengan pelayanan di Rumah Sakit Apung (RSA), doctorSHARE tidak dapat menangani kasus-kasus bedah mayor di PRG karena keterbatasan alat pendukung. Sembilan orang relawan medis bekerja sama dengan tenaga medis setempat membuka empat layanan kesehatan, yakni Balai Pengobatan Umum, Pemeriksaan Kehamilan dan Kandungan, Pemeriksaan Gigi, serta Bedah Minor.

Hingga hari terakhir pelayanan medis, Rabu (24/10), tercatat ada total 585 orang pasien yang datang berobat ataupun sekadar melakukan konsultasi. Balai Pengobatan Umum melaporkan kuantitas pasien paling banyak dibandingkan dengan layanan lain. Jumlah pasien pada hari pertama, kedua, dan ketiga secara berturut-turut adalah 149, 161, dan 163 atau total 473 orang setara 80% dari keseluruhan.

“Kasus paling banyak adalah ISPA-Infeksi Saluran Pernafasan Akut sebanyak 103 kasus,” ungkap dr. Marselina Mieke, selaku Wakil Koordinator Lapangan.

Sementara, dr. Lisa Kriestanto, Sp.OG., yang bertugas untuk melakukan Pemeriksaan Kehamilan dan Kandungan (obgyn) menerima total 30 pasien, dengan delapan di antaranya hanya berkonsultasi. Lulusan pendidikan dokter spesialis di Filipina ini menjelaskan, kasus obgyn terberat salah satunya adalah dugaan miom dalam rahim seorang Ibu berusia sekitar 50 tahun.

“Dia ada riwayat pendarahan, sudah bolak-balik dokter spesialis obgyn di Tual dan direkomendasikan angkat rahim di Rumah Sakit Ambon karena terindikasi sakit jantung juga,” paparnya.

Berikutnya, dari poli gigi melaporkan ada 53 orang pasien yang sebagian besar kasusnya adalah gangrene pulpa. Kondisi tersebut terjadi jika bagian pulpa (rongga di tengah) pada gigi meradang atau bahkan mati. Akibatnya, banyak gigi yang harus dicabut.

“Ada 60 gigi dicabut. Tapi, pasien anak-anaknya lebih berani dibanding pasien dewasa. Tiga pasien dewasa shock,” kata drg. Astrid Santoso kepada tim media doctorSHARE.

Lain halnya dengan tiga layanan kesehatan di atas, bedah minor hanya dilakukan selama dua hari, kecuali hari ketiga. Total pasien yang ditangani berjumlah 29 orang dengan beragam kasus benjolan pada bagian tubuh tertentu. Dalam hal ini, dua dokter yang tengah mengambil pendidikan spesialis bedah di Universitas Sam Ratulangi Manado turun langsung membantu pasien.

“Beberapa kasus yang ditangani di bedah minor itu antara lain lipoma, kista asteroma, dan ganglion,” ucap Koordinator Bedah Minor, dr. Ivan Christmas, Selasa (23/10).

* * *