Kabar Terkini
Urungkan Niat untuk Sembuh

Urungkan Niat untuk Sembuh

25 Januari 2019

Penulis: Pratikto Dwi Rahardjo

Sudah hampir 30 menit Adamsah menangis di pangkuan ibunya. Butuh waktu lama untuk membujuk dan mengajak Adamsah agar mau diperiksa. Berkali-kali Adamsah terlihat gelisah dalam pelukan ibunya. Tidak sedikit pula ajakan Adamsah untuk keluar dari Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan yang tengah sandar di dermaga milik PT. Banggai Sentral Sulawesi. Tangisan Adamsah makin menjadi-jadi saat seorang dokter mulai mengajak masuk ke dalam ruang pemeriksaan.

Adamsah tercatat dalam daftar pasien operasi mayor saat pelayanan medis doctorSHARE di Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Ibunda dari Adamsah mendengar informasi adanya layanan operasi gratis dari seorang tetangga yang juga salah satu pasien dalam pelayanan medis. Mendengar informasi tersebut, sang ibu bergegas membawa Adamsah ke lokasi pelayanan medis. Perjalananan dari rumah ke lokasi pelayanan medis memakan waktu 30 menit dengan kendaraan bermotor.

Sang ibu menjelaskan, Adamsah kerap mengeluh sakit pada bagian bawah perutnya. Rasa sakitnya makin menjadi-jadi saat Adamsah kelelahan setelah bermain maupun pulang sekolah. Sayangnya rasa sakit itu akan terus dirasakan sebab ia terus menolak untuk di operasi. Bocah 12 tahun itu tidak mau dioperasi karena ketakutan. Merasa gagal membujuk Adamsah yang terus merengek, sang ibu akhirnya mengikuti kemauan anaknya. Kisah yang hampir sama ada pada pasien lainnya bernama Yunus.

Setiba di dermaga, Yunus langsung melaksanakan pemeriksaan awal, terlihat ada sebuah benjolan besar di dagu yang tertutup janggut putih panjang. Dokter yang memeriksa pun setuju untuk mengoperasi Yunus dua hari setelah pemeriksaan awal. Yunus terlihat senang dan puas kala jadwal operasinya sudah ditentukan dan kemudian bergegas pulang. Yunus kembali hadir ke RSA dr. Lie Dharmawan di hari yang sudah ditentukan.

Pria paruh baya tersebut terlihat mondar mandir di dek kapal dan sesekali melongok bagian dalam kapal. Seolah tidak sabar, ia sesekali masuk ke ruang pulih sadar dan lorong keluarga pasien menunggu. Dokter yang mengatur alur pasien memberitahukan agar ia menunggu di luar kapal sampai gilirannya tiba. Sekitar pukul 15:00 WITA bicara kepada salah satu relawan doctorSHARE dan izin untuk melaksanakan Salat Ashar. Yunus berjalan meninggalkan dermaga dan tampak berjalan keluar gerbang sendirian.

Seusai izin tersebut Yunus tidak lagi terlihat di sekitar kapal hingga jadwal operasinya tiba ia tak kunjung nampak. Selang beberapa jam, anak dari Yunus datang ke kapal dan mengabarkan bahwa ayahnya mengurungkan niat untuk dioperasi. Kisah Adamsah dan Yunus hanya dua dari beberapa pasien selama pelayanan medis doctorSHARE yang batal operasi karena rasa takut. Koordinator pelayanan medis doctorSHARE di Batui, Panji Arief Sumirat mengatakan seringnya menemui kasus serupa di beberapa daerah yang pernah disambangi doctorSHARE.

“Pernah waktu itu pelayanan medis di Morotai, masyarakat banyak yang takut operasi tapi gak tahu kenapa penyebabnya. Begitu ada kerabat atau keluarga yang sudah operasi baru mau datang. Pernah dengar cerita yang sama dari relawan-relawan lain juga,” kata Panji. Relawan medis doctorSHARE, dr. Andre Bayu Nugroho menjelaskan ketakutan pasien akan pengobatan bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor pertama yaitu takut akan menerima kabar buruk akan disampaikan oleh dokter.

Meskipun belum terbukti berbahaya, pasien kerap lebih dulu takut akan sakit yang dideritanya. Takut tidak ada biaya dan membayangkan biaya pengobatan yang besar menjadi faktor kedua. “Ketika sudah menghadapi sakit, justru memikirkan biaya dan takut tidak bisa membayar. Akhirnya mengurungkan niat untuk berobat, padahal beberapa kasus butuh pertolongan segera dan berakibat fatal jika diabaikan,” tutur dr. Andre. Faktor ketiga ialah minimnya edukasi masyarakat akan penyakit yang dideritanya.

Banyak yang mengira penyakit yang diidapnya bisa sembuh tanpa harus memerlukan bantuan medis. Pemahaman dan kepercayaan yang bersifat pribadi terkadang justru memperburuk keadaan. Masyarakat bertindak sendiri menangani penyakit berdasarkan apa yang dipahami dan dipercaya. “Faktor ini pula yang menyebabkan masyarakat mudah terhasut dan terpengaruh informasi yang belum jelas asal usulnya,” tutup dr. Andre yang bertugas sebagai Koordinator Bedah Minor saat pelayanan medis doctorSHARE di Batui.

* * * 

 

Goresan Relawan

Panggilan untuk Melayani