Pelayanan Medis Panti Rawat Gizi doctorSHARE di Kei Besar, Maluku Tenggara (14 - 18 Januari 2019)

Pelayanan Medis Panti Rawat Gizi doctorSHARE di Kei Besar, Maluku Tenggara (14 - 18 Januari 2019)

25 Februari 2019

Penulis: Yodsa Rienaldo

Awal tahun 2019 doctorSHARE kembali mendatangkan relawan untuk melakukan pelayanan kesehatan ke wilayah Pulau Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku. Pelayanan ini dilakukan di Panti Rawat Gizi (PRG) Kei Besar selama lima hari pada 14 - 18 Januari 2019. Relawan yang mengikuti pelayanan medis terdiri dari relawan medis dan non-medis.

Tim relawan bertolak dari Jakarta menggunakan moda transportasi pesawat udara menuju Langgur, Pulau Kei Kecil. Sesampainya di Kei Kecil, perjalanan dilanjutkan menuju Kei Besar menggunakan kapal cepat. Tiba di Pelabuhan Elat, Kei Besar tim segera bergerak ke PRG untuk menyiapkan kebutuhan pelayanan medis.

Sesuai dengan tema pelayanan medis “Membawa Senyum di Indonesia Timur” prioritas dalam pelayanan kali ini adalah pelayanan gigi untuk masyarakat di Kei Besar. Dua relawan dokter gigi yang bertugas selama pelayanan berlangsung adalah drg. Erna Octaviana dan drg. Julia Putri Dewi Saraswati.

Sepanjang lima hari pelayanan, tercatat 69 pasien gigi yang yang berhasil ditangani di PRG Kei Besar. Tindakan yang dilakukan adalah ekstraksi atau cabut, jumlah gigi yang dicabut sebanyak 127 gigi.

“Kasusnya kebanyakan GR (ganren redix). Makhota giginya sudah hancur, jadi yang dicabut adalah sisa-sisa gigi dan akarnya,” tutur drg. Erna pada akhir pelayanan medis.

Dari total 127 gigi yang dicabut, 27 didiagnosis sebagai kasus gangren pupla, 95 kasus sisa akar atau gangren redix, dan lima kasus pencabutan gigi susu atau eksfoliasi.

“Semua tindakan yang dilakukan adalah cabut gigi. Ada beberapa pasien yang gigi lainnya terlihat bisa ditambal. Namun mengingat pendeknya waktu kegiatan dan terbatasnya alat dan bahan, tindakan yang bisa kita lakukan hanya cabut,” tambahnya.

Selama pelayanan medis berlangsung, dokter gigi yang bertugas dibantu oleh tenaga perawat dari PRG Kei Besar, Telli Delfita Rumte dan Nova Lutur. Dalam pelayanan medis ini doctorSHARE menyertakan relawan ahli gizi, Ratih Restu Indriani yang memberikan pembekalan mengenai gizi kepada tenaga perawat di PRG. 

Koordinator PRG doctorSHARE di Kei Besar, dr. Angelina Vanessa menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan kali ini memang sengaja difokuskan pada pemeriksaan gigi. Pertimbangan ini berdasarkan evaluasi dari kegiatan pelayanan medis sebelumnya pada Oktober 2018. Pelayanan medis saat itu dirasa cukup membuat kewalahan para relawan dan tenaga medis setempat. 

Pelayanan medis yang dilaksanakan pada 22 - 24 Oktober 2018 lalu, layanan yang disediakan ada empat yakni pengobatan umum, pemeriksaan kehamilan dan kandungan, pemeriksaan gigi, dan bedah minor.
“Kemarin itu jadi lebih susah membagi konsentrasinya. Pasien kan langsung datang banyak, pasien umum dan pasien bedah minor itu banyak terus. Layanan gigi juga sampai keteteran. Kita sampai banyak banget menolak pasien gigi,” kata dr. Vanessa.

Empat Tahun Tanpa Dokter Gigi

Lebih lanjut, dr. Vanessa juga mengakui bahwa pelayanan gigi adalah kegiatan yang ingin dilaksanakan secara rutin. Keinginan ini bukan tanpa alasan, di pulau dengan luas wilayah 550 km² dan dihuni sekitar 16.000 penduduk yang tersebar di lebih dari 100 desa tidak memiliki satu pun dokter gigi.

“Dokter gigi terakhir adanya di Puskesmas, tahun 2014 - 2015. Sehabis itu tidak ada lagi sampai sekarang,” jelasnya.

dr. Vanessa menjelaskan bahwa dokter gigi terdekat adanya di Rumah Sakit Tual. Masyarakat harus menempuh perjalanan laut selama 1,5 jam terlebih dahulu dengan menggunakan kapal cepat agar bisa ditangani oleh dokter gigi. 

“Kalau sakit mereka biasanya dibiarkan saja. Kumur-kumur pakai air garam, atau pakai obat-obatan lokal,” tuturnya. 

Keterangan ini juga dibenarkan oleh beberapa pasien. Salah satunya Anakletus Hungan, pasien yang mengaku sudah sakit gigi lebih dari setahun, dan selalu sakit ketika makan. “Sakitnya kalau goyang atau lagi makan. Kalau tidak ada dokter, cabut sendiri atau kumur-kumur pakai arak,” ucap Anakletus.

* * *