Program Kami
Beranda Program Inovatif

Program Inovatif

Rumah Sakit Apung (Floating Hospital)

Rumah sakit Apung adalah sebuah program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat pra-sejahtera di pulau terpencil Indonesia yang sulit mendapat layanan medis karena kendala geografis dan finansial. Pada 2013, melalui berbagai perombakan, lahirlah Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan yang terdiri dari dua tingkat. Bagian dasar digunakan sebagai ruang Rontgen, EKG (elektrokardiogram), USG (ultrasonografi), serta laboratorium. Di tingkat atas terdapat Kamar Bedah, Ruang Resusitasi, Ruang Dokter, dan sebagainya.

RSA dr. Lie Dharmawan merupakan rumah sakit apung milih swasta yang pertama di Indonesia. Ukurannya yang tergolong kecil membuat RSA ini mampu masuk ke pulau-pulau kecil di penjuru Indonesia. RSA ini telah berlayar ke pulau-pulau di Indonesia Barat dan Timur, untuk melakukan ratusan bedah mayor dan minor, serta pelayanan kesehatan bagi ribuan penduduk.

RSA DR. LIE DHARMAWAN
Penghujung Maret 2009, doctorSHARE tengah mela­kukan pelayanan medis cuma-cuma di Langgur, Kei Kecil – Maluku Tenggara. Saat melangsungkan bedah, di luar rencana datang seorang ibu membawa anak perempuannya yang berusia 9 tahun dalam keadaan usus terjepit. Mereka telah berlayar selama tiga hari dua malam mengarungi lautan!

Menurut teori medis, seseorang dengan usus terjepit harus sudah dioperasi dalam waktu 6 – 8 jam. Anak perempuan tersebut dioperasi dan mukjijat mengantarnya menuju kesembuhan.

Peristiwa ini sangat menggugah hati pendiri doctorSHARE, dr. Lie A. Dharmawan, Ph.D, FICS, Sp.B, Sp.BTKV. Bayangan anak perempuan tersebut selalu melintas dalam benaknya. Beliau pun terpanggil melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak mendapatkan pelayanan medis sebagaimana mestinya karena kendala geografis dan kondisi finansial. Ide utamanya adalah “menjemput bola” melalui Rumah Sakit Bergerak atau Rumah Sakit Terapung di atas sebuah kapal.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga masih harus melakukan banyak hal untuk memberikan pelayanan medis sesuai amanat Undang-undang Dasar 1945. Banyak warga pra sejahtera belum mendapatkan pelayanan medis yang memadai.

Penelitian mulai dilakukan. Diketahui bahwa jenis kapal untuk Rumah Sakit Apung yang sesuai dengan kondisi Indonesia bukanlah kapal besar yang sulit merapat ke pulau-pulau kecil. Di samping itu, jenis kapal berbahan fiber juga terlalu ringan dan akan segera bocor ketika menabrak karang.

Di Seattle, Amerika Serikat, dr. Lie mengunjungi museum kapal laut dan melihat kapal laut berbahan kayu berusia seratus tahun dalam kondisi yang masih sangat baik. Dari perpustakaan di sana, ditemukan sebuah artikel yang menulis bahwa jenis kayu terbaik bagi kapal adalah kayu ulin yang tumbuh di Indonesia dan Filipina.

Pulang ke Indonesia, dr. Lie mulai mencari kapal kayu dan akhirnya menemukan sebuah kapal barang di Palembang. Kapal berjenis pinisi tersebut akhirnya dibeli tahun 2012. Kapal memuat barang hingga 250 ton dan mampu berlayar dari Palembang menuju Riau, Batam, dan sebagainya. Dengan kualifikasi ini, Rumah Sakit Apung dapat berdiri di atas kapal tersebut.

Draft kapal tinggi yaitu 4,4 meter. Kamar-kamar pun mulai didirikan di dalam lambung kapal. Kondisi ini sangat menguntungkan karena guncangan saat melangsungkan tindakan bedah (operasi) di dalam lambung kapal jauh berkurang dibandingkan jika harus melakukannya di atas geladak.

* *

RSA NUSA WALUYA I
1 Juni 2015, doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) dan Yayasan EKADHARMA meluncurkan Rumah Sakit Apung (RSA) dengan nama RSA Nusa Waluya I. “Nusa” merupakan kependekan nusantara sedangkan “Waluya” merupakan bahasa Jawa yang berarti sehat, sembuh, atau pulih. 

Peluncuran RSA Nusa Waluya I dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan Ekspedisi Nusantara Jaya 2015 yang digelar di Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Jalan Raya Pelabuhan Pos 9, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Peluncuran RSA Nusa Waluya I ini dihadiri langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Drs. H. M. Jusuf Kalla beserta isteri dan pendiri doctorSHARE, dr. Lie Dharmawan, PhD, FICS, SpB, SpBTKV. Peluncuran ini juga disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M.Sc.

RSA Nusa Waluya I merupakan program kerjasama antara doctorSHARE dan Yayasan EKADHARMA. RSA Nusa Waluya I mengikuti jejak RSA pertama (RSA dr. Lie Dharmawan) dalam melakukan aksi jemput bola kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang hidup di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK) tanpa/minim fasilitas kesehatan.

Sistem Rumah Sakit Bergerak yang telah diterapkan pemerintah Indonesia menjadi salah satu upaya menjangkau masyarakat di wilayah terpencil tanpa akses kesehatan. Namun demikian, Indonesia belum memiliki cetak biru resmi tentang sistem Pelayanan Medis/Klinik/Rumah Sakit Terapung.
 
Kehadiran Sistem Pelayanan Medis Terapung bisa menjadi jawaban bagi permasalahan kesehatan di wilayah Indonesia yang terdiri lebih dari 17.000 kepulauan. Inilah yang memotivasi doctorSHARE merintis dan mempraktikkan pelayanan medis terapung.

Peluncuran RSA Nusa Waluya I yang merupakan RSA kedua ini adalah wujud nyata doctorSHARE dalam menyempurnakan sistem Pelayanan Medis Bergerak Terapung dengan menjalankan program percontohan melalui penerapan sistem ini di wilayah kepulauan dan mengadopsi beberapa desa tanpa/minim fasilitas/tenaga kesehatan.

Tim doctorSHARE melangsungkan pelayanan medis perdana dengan RSA Nusa Waluya I pada 21 – 27 November 2015 di Provinsi Jambi. 

* *

Dokter Terbang (Flying Doctors)

Dokter Terbang (Flying Doctors) pertama kali dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2015 yang bertepatan dengan program tetralogi pelayanan medis doctorSHARE. Dokter Terbang merupakan salah satu program doctorSHARE yang dibentuk untuk menjawab kebutuhan masyarakat di daerah yang hanya dapat diakses melalui udara atau jalan kaki.

 

Kebutuhan akses pelayanan kesehatan dari masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan Papua menginspirasi tim doctorSHARE untuk membentuk program ini, guna memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh RSA. Kehadiran dan dorongan dari beberapa pilot pesawat perintis yang sudah lama melayani daerah pegunungan papua juga semakin menguatkan tim doctorSHARE untuk mencetuskan program Dokter Terbang.

 

Mengapa Dokter Terbang?
Hasil survei ke beberapa lokasi pegunungan Papua dan jejak pendapat dengan masyarakat serta pihak-pihak terkait menunjukkan bahwa memang program ini yang dibutuhkan untuk menjangkau masyarakat pegunungan yang sangat butuh pelayanan. Program ini merupakan program “jemput bola” yang dapat mendukung program-program pemerintah yang belum dapat menjangkau masyarakat di daerah terpencil tersebut.

 

Target Dokter Terbang
Target dan sasaran pelayanan ini adalah masyarakat yang berada di daerah terpencil, kesulitan akses pelayanan medis, membutuhkan informasi dan dukungan yang mampu diberikan oleh program ini.

 

Kegiatan Dokter Terbang
Kegiatan yang dilakukan yaitu pengobatan umum, operasi minor, pendampingan (peyuluhan kesehatan) dan pemberdayaan masyarakat (pelatihan kader lokal). Pemetaan lokasi dan evaluasi pelayanan yang rutin dilakukan diharapkan membuat program ini berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dilayani.

* * *