Program Kami
Beranda RSA dr. Lie Dharmawan

RSA dr. Lie Dharmawan

Penghujung Maret 2009, doctorSHARE tengah mela­kukan pelayanan medis cuma-cuma di Langgur, Kei Kecil – Maluku Tenggara. Saat melangsungkan bedah, di luar rencana datang seorang ibu membawa anak perempuannya yang berusia 9 tahun dalam keadaan usus terjepit. Mereka telah berlayar selama tiga hari dua malam mengarungi lautan!

Menurut teori medis, seseorang dengan usus terjepit harus sudah dioperasi dalam waktu 6 – 8 jam. Anak perempuan tersebut dioperasi dan mukjijat mengantarnya menuju kesembuhan.

Peristiwa ini sangat menggugah hati pendiri doctorSHARE, dr. Lie A. Dharmawan, Ph.D, FICS, Sp.B, Sp.BTKV. Bayangan anak perempuan tersebut selalu melintas dalam benaknya. Beliau pun terpanggil melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak mendapatkan pelayanan medis sebagaimana mestinya karena kendala geografis dan kondisi finansial. Ide utamanya adalah “menjemput bola” melalui Rumah Sakit Bergerak atau Rumah Sakit Terapung di atas sebuah kapal.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga masih harus melakukan banyak hal untuk memberikan pelayanan medis sesuai amanat Undang-undang Dasar 1945. Banyak warga pra sejahtera belum mendapatkan pelayanan medis yang memadai.

Penelitian mulai dilakukan. Diketahui bahwa jenis kapal untuk Rumah Sakit Apung yang sesuai dengan kondisi Indonesia bukanlah kapal besar yang sulit merapat ke pulau-pulau kecil. Di samping itu, jenis kapal berbahan fiber juga terlalu ringan dan akan segera bocor ketika menabrak karang.

Di Seattle, Amerika Serikat, dr. Lie mengunjungi museum kapal laut dan melihat kapal laut berbahan kayu berusia seratus tahun dalam kondisi yang masih sangat baik. Dari perpustakaan di sana, ditemukan sebuah artikel yang menulis bahwa jenis kayu terbaik bagi kapal adalah kayu ulin yang tumbuh di Indonesia dan Filipina.

Pulang ke Indonesia, dr. Lie mulai mencari kapal kayu dan akhirnya menemukan sebuah kapal barang di Palembang. Kapal berjenis pinisi tersebut akhirnya dibeli tahun 2012. Kapal memuat barang hingga 250 ton dan mampu berlayar dari Palembang menuju Riau, Batam, dan sebagainya. Dengan kualifikasi ini, Rumah Sakit Apung dapat berdiri di atas kapal tersebut.

Draft kapal tinggi yaitu 4,4 meter. Kamar-kamar pun mulai didirikan di dalam lambung kapal. Kondisi ini sangat menguntungkan karena guncangan saat melangsungkan tindakan bedah (operasi) di dalam lambung kapal jauh berkurang dibandingkan jika harus melakukannya di atas geladak.